Kamis, 14 April 2011

Ungkapan Hati Sebatang Pohon


Assalammualaikum wr.wb
Salam kenal. Perkenalkan, aku adalah salah satu penghuni dari perkebunan PTPN VII. Secara klasifikasi ilmiah, aku termasuk dalam spesies Hevea brasiliensis. Setiap harinya orang-orang memanfaatkan tubuhku untuk mendapatkan uang sebagai upaya peningkatan taraf hidup mereka. Tubuhku memang “ajaib”. Tuhan memeberiku kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temanku yang lain. Tubuhku bisa mengeluarkan getah yang apabila dijual di pasaran memiliki nilai ekonomi tinggi. Itulah yang menjadi alasan mengapa banyak diantara kalian semakin bersemangat untuk memperbanyak jumlah populasi kami. Jaminan yang kami berikan tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi kalian. Aku senang mendengar kabar itu. Itu artinya, aku tidak lagi akan kehilangan saudara-saudaraku.
Lima tahun belakangan ini, aku sering sekali merasa sedih dan kehilangan. Sahabat-sahabatku di hutan Kalimantan banyak yang dipaksa untuk “mati”. Padahal aku tahu, mereka masih ingin melindungi bumi ini. Aku juga tahu mereka masih bersemangat untuk meberikan keseimbangan bagi hidup kalian dan memberikan oksigen terbaik untuk kalian bernafas. Aku tidak tahu, apa sih yang ada di pikiran kalian? Dengan semangat yang membara kalian tega membunuh teman-temanku. Apa yang kalian cari wahai manusia yang terhormat? Apakah selembaran rupiah? Sungguh “bodoh” tindakan kalian kepada kami. Apakah kalian pikir lembaran rupiah yang kalian terima bisa menggantikan peran serta kami dalam menyelamatkan bumi ini?
Saat ini kita (bukan hanya kalian), mengalami masa yang disebut dengan pemanasan global atau sering kalian sebut dengan istilah Global Warming. Banyak sekali diantara kalian yang telah melakukan berbagai analisis dan penelitian tentang hal ini. Itu artinya banyak diantara kalian yang telah menyadari betapa pentingnya keberadaan kami di muka bumi. Tetapi, mengapa disaat kesadaran itu ada tidak disertai dengan kesadaran kalian untuk menjaga dan melindungi kami. Menurut data yang dipaparkan Muhamad Dahlan, peneliti Departemen Ekonomi, Soegeng Sarjadi Syndicated, Jakarta, selain kebakaran hutan, sumber kerusakan hutan (tempat tinggal kami) lainnya adalah illegal logging. Secara umum, praktek illegal logging adalah segala kegiatan menebang kayu, membeli, atau menjual kayu dengan cara tidak sah. Prakteknya dengan dengan cara menebang di areal yang secara prinsip dilarang tetapi menjadi legal dengan surat yang dikeluarkan oleh “Pejabat Kotor” setempat sebagai hasil kolusi.
Akibat illegal logging, hutan-hutan di Negara kita memasuki fase rawan, kerusakannya sudah pada titik kritis. Seluruh jenis hutan di Indonesia mengalami pembalakan liar sekitar 7,2 hektar hutan per menitnya, atau 3,8 juta hektar per tahun. Ini tidak saja mengancam keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya namun juga akan menimbulkan efek berantai negatif pada keseimbangan alam. Lalu bagaimana dengan nasib kami selanjutnya? Kemana kami harus tinggal? Apakah kalian memikirkan hal itu?
Total kerugian yang Negara kita alami dari illegal logging per tahunnya mencapai Rp 30 triliun atau Rp 2,5 triliun per bulannya. Kerugian ini adalah empat kali lipat dari APBN untuk sektor kehutanan. Dengan semakin berkurangnya kawasan hutan Indonesia, maka sebagian besar kawasan Negara kita ini telah menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor.
Kami sedih dan hati kami miris. Kami masih sangat ingin memberikan yang terbaik bagi bumi ini. Kami ingin Negara kita tetap hijau dan mantap memegang predikat sebagai Paru-paru dunia.  Tetapi kami bingung, mengapa sedikit sekali orang yang peduli dengan nasib kami. Hanya sebagian saja yang mengerti keadaan kami. Dan hanya sebagian saja yang membela kami serta menomorsatukan kami dalam kehidupannya.

Angin Sejuk PTPN VII
            Aku mau sedikit berbagi cerita kepada kalian, wahai manusia yang terhormat. Saat ini aku dan teman-temanku yang lain tinggal di sebuah kawasan perkebunan yang luas di pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Bengkulu, Lampung dan Sumatera Selatan. Aku sangat senang bisa tinggal di tempat ini dan aku sangat nyaman. Di sini aku mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang sangat baik. Aku sama sekali tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti yang kalian lakukan kepada teman-teman kami di hutan Kalimantan dan sebagian hutan di Papua.
            PTPN VII adalah penyelamat kita. Bukankah kita semua merasakan dampak baiknya? Pertama, kami menjadi bahagia karena telah diselamatkan dari ancaman pembalakan liar, kami diperlakukan sangat baik, dijaga dan dinomorsatukan. Dampak baik yang kedua adalah untuk kalian. 35.145 hektar kebun karet milik PTPN VII tentunya akan memberikan dampak baik bagi hidup dan lingkungan kalian. Dan luas kebun PTPN VII ini tentunya akan menggantikan luas hutan yang kalian tebang secara liar setiap harinya.
Gas oksigen yang kami hasilkan akan sedikit membantu. Berdasarkan statistik PBB, pada tahun 2004, emisi CO2 Indonesia mencapai 380 juta ton (United Nations Statistic Division, 2007). Emisi ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk industri, transportasi dan rumah tangga, sehingga kontribusi kebun karet PTPN VII dapat mengikat emisi CO2 nasional sebesar 2,1%. Tubuh kami mampu menaikkan kandungan air tanah dan kelembapan udara. Tubuh kami juga dapat berfungsi sebagai pematang angin, penambah kualitas air tanah, penangkal intrusi air laut, pengurang cahaya silau, dan penyerap zat penawar seperti gas, partikel padat, serta aerosol dari kendaraan bermotor dan industri.
Add caption
            Aku disini tidak tinggal seorang diri. Disini aku juga punya teman baik yang namanya “Sawit”. Sama sepertiku, dia juga menjadi primadona dalam sektor perkebunan. Dan sama sepertiku juga, dia sangat membantu keseimbangan alam tempat kita tinggal. Kami berdua menghasilkan oksigen untuk kalian bernafas. Kami juga turut membantu mengurangi emisi gas karbondioksia (CO2).  Kami dijaga dan dinomorsatukan oleh PTPN VII. Tentunya kami sangat ikhlas untuk menghasilkan oksigen terbaik untuk kalian bernafas, ini merupakan balas budi kami atas perlakuan baik yang dilakukan PTPN VII kapada kami. Entah, kalimat apa lagi yang harus kami ucapkan kepada PTPN VII. Disaat teman-temanku diperlakukan kasar di seberang sana (illegal logging), kami justru diperlakukan dengan sangat baik oleh PTPN VII. PTPN VII senantiasa membawa angin sejuk untuk kami. Ucapan rasa syukur kami persembahkan kepada-Mu Tuhan karena telah memberikan kami kesempatan dirawat dan dijaga oleh PTPN VII. Dan terima kasih PTPN VII, semoga perlakuan baik yang kalian lakukan juga berdampak baik bagi kehidupan kalian. Kami juga berharap, semoga banyak orang yang belajar kepada kalian tentang bagaimana cara memperlakukan alam dan isinya dengan baik serta arif. Amin ya rabbal alamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar