Indonesia Tanah Air beta. Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa. Disana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung dihari tua sampai akhir menutup mata.
Itulah bait lagu Indonesia Pusaka buah karya Ismail Marzuki. Bait lagu yang menggambarkan betapa bangganya penyair akan tanah air tempat kelahirannya.
Aku pun tak kalah bangganya terlahir sebagai anak Indonesia. Bumi pertiwi tempatku berpijak saat ini begitu luar biasa. Alamnya yang berseri-seri dengan flora dan faunanya yang beraneka ragam serta budayanya yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Membuatku semakin yakin untuk berujar,”Inilah negeri terindah yang pernah Tuhan ciptakan”.
Indonesia tempatku berpijak saat ini merupakan negeri dengan karakter budaya yang sangat kuat dan unik. Setiap daerah memiliki potensi budaya yang membuat takjub. Yang tidak sama satu dan lainnya.
Sekelumit Kisahku
Saat itu umurku baru tujuh tahun. Aku diajak oleh ibuku untuk menyaksikan dari dekat festival budaya yang ada di daerahku, Sumatera Selatan. Aku senang dan antusias sekali saat itu. Meskipun aku masih anak-anak, tetapi rasa keingintahuanku dan rasa antusiasku sangat tinggi. Aku membayangkan nantinya akan menyaksikan dari dekat kayanya negeriku ini. Tarian yang selama ini hanya bisa kusaksikan di layar kotak kaku kini nampak jelas dipandanganku. Ternyata tidak hanya aku. Disana banyak ku temui anak-anak lain yang seumuran denganku.
Hal yang pertama kusaksikan adalah tarian asli Sumatera Selatan. Gerakan tari tersebut begitu sempurna. Dengan senyum bangga penarinya yang menambah keanggunan tari tersebut. Adalah tari tanggai. Pada awalnya aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi dihadapanku saat itu. Aku juga tidak mengerti apa maksud tarian itu. Mungkin karena umurku yang masih tergolong anak-anak. Sebagai anak, aku hanya menikmati gerakan yang divisualisasikan oleh sang penari. Timbul pertanyaan dalam benakku sebagai anak. Apa maksud gerakan tari itu? Mengapa kakak-kakak itu bisa begitu kompak saat menari? Apakah anak-anak seperti kami bisa seperti itu? Mereka dengan bangganya memperlihatkan budaya daerahnya.
Lalu setelah pementasan tari tersebut selesai, aku lantas menghampiri salah satu penari yang ku kenal. Namanya kak Nyimas Siti Aurora, dia tetanggaku. Ku arahkan semua pertanyaanku tadi kepadanya. Semua pertanyaan dalam benakku akhirnya terjawab sudah. Kak Nyimas menjelaskan dengan detilnya. Ternyata tari tanggai merupakan tari persembahan atau tari selamat datang yang merupakan warisan dari Kesultanan Palembang yang ditarikan oleh beberapa wanita.
Tari ini merupakan tari asli Indonesia. Kekompakan penari merupakan keharusan dan tidak mudah dalam melakukannya. Sang penari harus meluangkan waktu lebih banyak untuk melakukan latihan. Gerakan kaki, tangan, bahkan lirikan mata harus dikompakkan. Keterangan yang aku dapatkan dari kak Nyimas katanya semua orang bisa menarikan tari tanggai. Asalkan serius dan rajin berlatih. Kak Nyimas telah menjadi penari tanggai sejak usianya 12 tahun. Sekarang ia pun masih menggelutinya walau kini telah kelas 2 SMA. Rasa bangga dan kepuasan yang didapat karena bisa menguasai salah satu budaya bumi pertiwi merupakan salah satu alasan kuat yang membuat kak Nyimas tetap kukuh untuk tetap menari.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun ke depan. Masih bisakah kita melihat anggunnya tari tanggai 10 atau 20 tahun ke depan?
Dengan kian majunya zaman maka kian meningkat pula pengaruh budaya asing yang pada kenyataannya tercaplok dengan baik di Tanah Air kita. Budaya kita semakin sedikit yang mau meneruskan dan melestarikannya. Terutama anak-anak muda, yang mau concern hanya mereka yang tinggal di desa dan golongan tua saja. Budaya asli bumi pertiwi perlahan-lahan tergerus dan tertelan dengan kemodernan yang ditawarkan zaman.
Malu (Aku) Jadi Anak Indonesia
Kontroversi pengklaiman Negara serumpun Malaysia terhadap budaya Tanah Air tentunya masih hangat di benak kita. Negara yang dulu sangat erat hubungannya dengan kita kini berbalik menikam kita.
Perguruan tinggi Tanah Air yang dulunya memberikan pendidikan kepada rakyat Malaysia seakan tak mampu mengingatkan kembali bagaimana dekatnya hubungan Indonesia-Malaysia dulu. Berbagai cabang kesenian Tanah Air sengaja ataupun tidak sengaja mereka akui. Mulai dari baju adat, lagu daerah, alat musik, senjata tradisional, tarian bahkan makanan dan obat-obatan tradisonal.
Selain angklung, gamelan, batik, rendang, tari pendet dan tari reog, senjata tradisonal semacam keris juga ikut-ikutan diklaim. “Keris adalah senjata tradisional yang akan banyak kita jumpai di ranah jawa. Keberadaannya telah ada semasa berjayanya kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dulu. Keris mempunyai bentuk yang khas, mempunyai ciri masing-masing yang menunjukkan siapa empunya”. Kurang lebih begitulah informasi yang pernah aku terima dari guru seni budayaku sewaktu di bangku sekolah dasar dulu.
Kini aku telah kelas 2 SMA. Aku mulai sadar. Ketakutanku dulu kini sepertinya terbukti. Kebudayaan di negeriku kian lama kian terancam. Aku kian takut. Akankah budaya di negeriku ini akan tetap bertahan ditengah westernisasi yang kian menjadi-jadi? Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Sebagai anak Indonesia, aku terlanjur kecewa dengan tingkah pola mereka yang secara umur lebih dewasa dibandingkan aku. Mereka hanya bisa berkoar-koar. Seolah bisa menyelamatkan budaya yang telah diklaim Negara lain. Padahal mereka juga yang secara tidak langsung memberikan contoh yang tidak baik kepada kami, anak Indonesia. Dengan bangganya mereka mempertontonkan harajuku style yang mereka anut. Padahal budaya negeri orang tersebut tidak sesuai dengan adat ketimuran Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Ironis memang, disaat budaya bumi pertiwi terseok-seok mencoba untuk bertahan, disaat yang sama anak-anak muda Indonesia membanggakan dan peduli dengan budaya asing semacam harajuku. Mereka dengan rela mengeluarkan dana lebih demi itu semua.
Jarang sekali terlihat olehku tayangan di televisi yang menayangkan acara untuk anak-anak. Apalagi acara anak-anak yang mempelajari tentang budaya Indonesia. Dengan host nya yang menggunakan pakaian adat asli Indonesia, tersenyum bangga, dan menyuarakan rasa cintanya pada Indonesia.
Aku sungguh malu. Aku malu menjadi anak Indonesia kalau hanya bisa membanggakan budaya Negara lain. Seharusnya kita semua sadar, mengapa Negara lain dengan mudahnya mengklaim banyak sekali budaya Tanah Air kita? Inilah yang mungkin terlupakan oleh kita semua. Kebanyakan dari kita kurang peduli dengan eksistensi budaya lokal. Kita lebih tertarik dengan budaya Internasional yang notabene tidak sesuai dengan adat istiadat dan norma di Negara kita.
Kita melupakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada Negara kita. Alam yang memesona, penduduk yang ramah, luas wilayah, serta beragam budaya yang unik. Mengapa kita harus malu memakai baju batik? Mengapa kita harus enggan untuk belajar tari pendet , tari reog, tari piring dan tarian Indonesia lainnya? Mengapa kita harus takut untuk mengkonsumsi jamu? Dan mengapa kita harus tersipu malu memainkan angklung dan gamelan?
“Negara lain bisa saja mengklaim batik sebagai budayanya, tetapi dunia telah mengakui batik sebagai budaya asli Indonesia”. Begitulah ungkapan Menbudpar Bapak Jero Wacik disalah satu media masa. PBB melalui UNESCO pada Oktober 2009 lalu juga telah menetapkan beberapa budaya Indonesia yang pernah diklaim Malaysia. Salah satunya adalah batik yang kini ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia.
Ungkapan pak Jero wacik dan penetapan UNESCO tersebut membuatku semakin bangga dengan Indonesia. Aku pun semakin yakin untuk berujar, “Wahai penghuni dunia. Datanglah kalian ke negeriku. Lihatlah. Maka kau akan jatuh cinta padanya”.
Cintailah Tanah Air kita. Cintailah beragam budaya unik yang Tuhan berikan kepada Tanah Air kita. Kapan lagi kau bilang, I love my culture?
Sungguh indah tanah air beta. Tiada bandingnya di dunia. Karya indah Tuhan maha kuasa. Bagi bangsa yang memujanya. Indonesia ibu pertiwi. Kau ku puja kau ku kasihi. Tenagaku bahkan pun jiwaku. Kepadamu rela ku beri. (Indonesia Pusaka-Ismail Marzuki)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar