Jumat, 15 April 2011

FREE DORM BERSAMA SIMPATI FREEDOM


            Apa yang ada di pikiran kalian jika mendengar kata asrama?
Semua pasti akan berpendapat sama bahwasanya asrama adalah tempat yang membuat semuanya terbatas. Hal utama yang pastinya akan dirasakan oleh penghuni asrama adalah keterbatasan komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar. Semua ini muncul karena penerapan aturan yang relatif ketat di sebuah asrama.
            Saat ini saya tengah menempuh pendidikan akhir di SMA Negeri 3 Kayuagung. SMA ini mewajibkan seluruh anak didiknya untuk menempati asrama yang telah disediakan. Bersekolah di sekolah yang berasrama merupakan keputusan berat yang akhirnya saya ambil. Dan ternyata segala kabar angin yang berhembus itu benar. Komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar relatif terbatas apabila kalian memutuskan untuk sekolah di sekolah berasrama.
            Asrama SMA 3 atau biasa kami sebut dengan istilah Dorm (Dormitory) merupakan asrama yang juga menerapkan peraturan-peraturan yang relatif ketat. Kami hanya diperbolehkan untuk pulang hari sabtu siang dan kembali lagi ke sekolah hari minggu sore. Untuk sekedar keluar dari lingkungan sekolah pun kami harus meminta surat izin kepada wali asrama ataupun guru piket. Tetapi untungnya kami diperbolehkan untuk membawa hp dengan syarat hp tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan sekolah yaitu tidak berkamera. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah penyebaran video asusila di kalangan pelajar. Hp sangat membantu kami untuk berkomunikasi dengan orang tua. Bila rasa rindu melanda, kami bisa menelpon orang tua kami.
            Dahulu aku merupakan pengguna si hijau yang katanya murah meriah. Pengalaman teman-temanku aku jadikan referensi. Kata mereka si hijau itu murah, sinyalnya pun kuat dan lancar. Ternyata apa yang dikatakan mereka tidak sama dengan kenyataan. Sinyalnya sering hilang entah kemana dan ketika nelpon sering sekali terputus. Pulsa pun cepat sekali berkurang karena mahalnya biaya nelpon. Sempat menyesal sih kenapa waktu itu aku milih si hijau padahal orang tua sudah menganjurkan pake Telkomsel. Hingga akhirnya aku jatuhkan pilihan kepada produk baru dari Telkomsel, dialah simPATI Freedom. Ketika libur lebaran kemarin aku gak sengaja nonton iklannya di tipi. Jujur aku langsung tertarik dengan si merah itu. Sepertinya banyak sekali fitur “ajaib” yang ditawarkannya. Aku langsung bertanya-tanya sama temen yang telah lebih dulu menjadi pengguna simPATI Freedom. Aku semakin tertarik, dan aku pun memutuskan untuk mengganti si hijau dengan si merah. Apalagi aku sadar bahwa bapakku, kakakku dan keluargaku yang lain pengguna Telkomsel sejak lama. Aku langsung menuju Counter Hp untuk membeli kartu perdananya. Dengan uang 7 ribu rupiah saja kita sudah dapat langsung menikmati  keunggulan simPATI Freedom.
            Aku membuktikan sendiri bahwa iklan si merah gak bohong. Kita hanya cukup menekan *999#. Semua pilihan keunggulan fitur bisa kita pilih disana. Hidup serasa dimanjakan dengan berbagai pilihan yang disediakan. Aku paling suka dengan fitur Ngobrol Tanpa Batas yang ditawarkan simPATI Freedom. Dengan uang Rp. 1500 saja aku sudah bisa bebas ngobrol dengan orang tua. Rasa rinduku pun bisa diobati. Cara mengaktifkan fitur ini pun gampang, cukup dengan menekan *999*55#.
Disini aku gak akan menjelaskan detail, tetapi disini aku menekankan dan menganjurkan kepada kalian untuk segera ganti kartu kalian dengan simPATI Freedom. Nikmati langsung keunggulannya, percaya sama aku, kamu gak bakal nyesel. Apalagi buat kalian yang senasib denganku (anak-anak asrama). Komunikasi kita dengan orang tua  akan lancar bersama simPATI Freedom. Sinyalnya benar-benar kuat dan lancar serta biaya nelponnya murah euy apalagi ditambah gratisan-gratisannya. Mulai dari gratis nelpon, sms, sampai gratis akses internet, facebook-an pun juga lancar. Hidup di asrama sekalipun akan terasa lebih fleksibel jika kita menggunakan simPATI Freedom, Free Dorm bersama simPATI Freedom.
Terima kasih simPATI Freedom dan terima kasih Telkomsel. Semoga konsistensi kalian dalam menyediakan layanan komunikasi terbaik di negeri ini selalu dibuahi kesuksesan. Amin ya Robbal Alamin.

Kamis, 14 April 2011

Ungkapan Hati Sebatang Pohon


Assalammualaikum wr.wb
Salam kenal. Perkenalkan, aku adalah salah satu penghuni dari perkebunan PTPN VII. Secara klasifikasi ilmiah, aku termasuk dalam spesies Hevea brasiliensis. Setiap harinya orang-orang memanfaatkan tubuhku untuk mendapatkan uang sebagai upaya peningkatan taraf hidup mereka. Tubuhku memang “ajaib”. Tuhan memeberiku kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temanku yang lain. Tubuhku bisa mengeluarkan getah yang apabila dijual di pasaran memiliki nilai ekonomi tinggi. Itulah yang menjadi alasan mengapa banyak diantara kalian semakin bersemangat untuk memperbanyak jumlah populasi kami. Jaminan yang kami berikan tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi kalian. Aku senang mendengar kabar itu. Itu artinya, aku tidak lagi akan kehilangan saudara-saudaraku.
Lima tahun belakangan ini, aku sering sekali merasa sedih dan kehilangan. Sahabat-sahabatku di hutan Kalimantan banyak yang dipaksa untuk “mati”. Padahal aku tahu, mereka masih ingin melindungi bumi ini. Aku juga tahu mereka masih bersemangat untuk meberikan keseimbangan bagi hidup kalian dan memberikan oksigen terbaik untuk kalian bernafas. Aku tidak tahu, apa sih yang ada di pikiran kalian? Dengan semangat yang membara kalian tega membunuh teman-temanku. Apa yang kalian cari wahai manusia yang terhormat? Apakah selembaran rupiah? Sungguh “bodoh” tindakan kalian kepada kami. Apakah kalian pikir lembaran rupiah yang kalian terima bisa menggantikan peran serta kami dalam menyelamatkan bumi ini?
Saat ini kita (bukan hanya kalian), mengalami masa yang disebut dengan pemanasan global atau sering kalian sebut dengan istilah Global Warming. Banyak sekali diantara kalian yang telah melakukan berbagai analisis dan penelitian tentang hal ini. Itu artinya banyak diantara kalian yang telah menyadari betapa pentingnya keberadaan kami di muka bumi. Tetapi, mengapa disaat kesadaran itu ada tidak disertai dengan kesadaran kalian untuk menjaga dan melindungi kami. Menurut data yang dipaparkan Muhamad Dahlan, peneliti Departemen Ekonomi, Soegeng Sarjadi Syndicated, Jakarta, selain kebakaran hutan, sumber kerusakan hutan (tempat tinggal kami) lainnya adalah illegal logging. Secara umum, praktek illegal logging adalah segala kegiatan menebang kayu, membeli, atau menjual kayu dengan cara tidak sah. Prakteknya dengan dengan cara menebang di areal yang secara prinsip dilarang tetapi menjadi legal dengan surat yang dikeluarkan oleh “Pejabat Kotor” setempat sebagai hasil kolusi.
Akibat illegal logging, hutan-hutan di Negara kita memasuki fase rawan, kerusakannya sudah pada titik kritis. Seluruh jenis hutan di Indonesia mengalami pembalakan liar sekitar 7,2 hektar hutan per menitnya, atau 3,8 juta hektar per tahun. Ini tidak saja mengancam keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya namun juga akan menimbulkan efek berantai negatif pada keseimbangan alam. Lalu bagaimana dengan nasib kami selanjutnya? Kemana kami harus tinggal? Apakah kalian memikirkan hal itu?
Total kerugian yang Negara kita alami dari illegal logging per tahunnya mencapai Rp 30 triliun atau Rp 2,5 triliun per bulannya. Kerugian ini adalah empat kali lipat dari APBN untuk sektor kehutanan. Dengan semakin berkurangnya kawasan hutan Indonesia, maka sebagian besar kawasan Negara kita ini telah menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor.
Kami sedih dan hati kami miris. Kami masih sangat ingin memberikan yang terbaik bagi bumi ini. Kami ingin Negara kita tetap hijau dan mantap memegang predikat sebagai Paru-paru dunia.  Tetapi kami bingung, mengapa sedikit sekali orang yang peduli dengan nasib kami. Hanya sebagian saja yang mengerti keadaan kami. Dan hanya sebagian saja yang membela kami serta menomorsatukan kami dalam kehidupannya.

Angin Sejuk PTPN VII
            Aku mau sedikit berbagi cerita kepada kalian, wahai manusia yang terhormat. Saat ini aku dan teman-temanku yang lain tinggal di sebuah kawasan perkebunan yang luas di pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Bengkulu, Lampung dan Sumatera Selatan. Aku sangat senang bisa tinggal di tempat ini dan aku sangat nyaman. Di sini aku mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang sangat baik. Aku sama sekali tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti yang kalian lakukan kepada teman-teman kami di hutan Kalimantan dan sebagian hutan di Papua.
            PTPN VII adalah penyelamat kita. Bukankah kita semua merasakan dampak baiknya? Pertama, kami menjadi bahagia karena telah diselamatkan dari ancaman pembalakan liar, kami diperlakukan sangat baik, dijaga dan dinomorsatukan. Dampak baik yang kedua adalah untuk kalian. 35.145 hektar kebun karet milik PTPN VII tentunya akan memberikan dampak baik bagi hidup dan lingkungan kalian. Dan luas kebun PTPN VII ini tentunya akan menggantikan luas hutan yang kalian tebang secara liar setiap harinya.
Gas oksigen yang kami hasilkan akan sedikit membantu. Berdasarkan statistik PBB, pada tahun 2004, emisi CO2 Indonesia mencapai 380 juta ton (United Nations Statistic Division, 2007). Emisi ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk industri, transportasi dan rumah tangga, sehingga kontribusi kebun karet PTPN VII dapat mengikat emisi CO2 nasional sebesar 2,1%. Tubuh kami mampu menaikkan kandungan air tanah dan kelembapan udara. Tubuh kami juga dapat berfungsi sebagai pematang angin, penambah kualitas air tanah, penangkal intrusi air laut, pengurang cahaya silau, dan penyerap zat penawar seperti gas, partikel padat, serta aerosol dari kendaraan bermotor dan industri.
Add caption
            Aku disini tidak tinggal seorang diri. Disini aku juga punya teman baik yang namanya “Sawit”. Sama sepertiku, dia juga menjadi primadona dalam sektor perkebunan. Dan sama sepertiku juga, dia sangat membantu keseimbangan alam tempat kita tinggal. Kami berdua menghasilkan oksigen untuk kalian bernafas. Kami juga turut membantu mengurangi emisi gas karbondioksia (CO2).  Kami dijaga dan dinomorsatukan oleh PTPN VII. Tentunya kami sangat ikhlas untuk menghasilkan oksigen terbaik untuk kalian bernafas, ini merupakan balas budi kami atas perlakuan baik yang dilakukan PTPN VII kapada kami. Entah, kalimat apa lagi yang harus kami ucapkan kepada PTPN VII. Disaat teman-temanku diperlakukan kasar di seberang sana (illegal logging), kami justru diperlakukan dengan sangat baik oleh PTPN VII. PTPN VII senantiasa membawa angin sejuk untuk kami. Ucapan rasa syukur kami persembahkan kepada-Mu Tuhan karena telah memberikan kami kesempatan dirawat dan dijaga oleh PTPN VII. Dan terima kasih PTPN VII, semoga perlakuan baik yang kalian lakukan juga berdampak baik bagi kehidupan kalian. Kami juga berharap, semoga banyak orang yang belajar kepada kalian tentang bagaimana cara memperlakukan alam dan isinya dengan baik serta arif. Amin ya rabbal alamin

KAPAN LAGI KAU BILANG, I LOVE MY CULTURE?


Indonesia Tanah Air beta. Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa. Disana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung dihari tua sampai akhir menutup mata.

            Itulah bait lagu Indonesia Pusaka buah karya Ismail Marzuki. Bait lagu yang menggambarkan betapa bangganya penyair akan tanah air tempat kelahirannya.
            Aku pun tak kalah bangganya terlahir sebagai anak Indonesia. Bumi pertiwi tempatku berpijak saat ini begitu luar biasa. Alamnya yang berseri-seri dengan flora dan faunanya yang beraneka ragam serta budayanya yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Membuatku semakin yakin untuk berujar,”Inilah negeri terindah yang pernah Tuhan ciptakan”.
            Indonesia tempatku berpijak saat ini merupakan negeri dengan karakter budaya yang sangat kuat dan unik. Setiap daerah memiliki potensi budaya yang membuat takjub. Yang tidak sama satu dan lainnya.

Sekelumit Kisahku
            Saat itu umurku baru tujuh tahun. Aku diajak oleh ibuku untuk menyaksikan dari dekat festival budaya yang ada di daerahku, Sumatera Selatan. Aku senang dan antusias sekali saat itu. Meskipun aku masih anak-anak, tetapi rasa keingintahuanku dan rasa antusiasku sangat tinggi. Aku membayangkan nantinya akan menyaksikan dari dekat kayanya negeriku ini. Tarian yang selama ini hanya bisa kusaksikan di layar kotak kaku kini nampak jelas dipandanganku. Ternyata tidak hanya aku. Disana banyak ku temui anak-anak lain yang seumuran denganku.
            Hal yang pertama kusaksikan adalah tarian asli Sumatera Selatan. Gerakan tari tersebut begitu sempurna. Dengan senyum bangga penarinya yang menambah keanggunan tari tersebut. Adalah tari tanggai. Pada awalnya aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi dihadapanku saat itu. Aku juga tidak mengerti apa maksud tarian itu. Mungkin karena umurku yang masih tergolong anak-anak. Sebagai anak, aku hanya menikmati gerakan yang divisualisasikan oleh sang penari. Timbul pertanyaan dalam benakku sebagai anak. Apa maksud gerakan tari itu? Mengapa kakak-kakak itu bisa begitu kompak saat menari? Apakah anak-anak  seperti kami bisa seperti itu? Mereka dengan bangganya memperlihatkan budaya daerahnya.
            Lalu setelah pementasan tari tersebut selesai, aku lantas menghampiri salah satu penari yang ku kenal. Namanya kak Nyimas Siti Aurora, dia tetanggaku. Ku arahkan semua pertanyaanku tadi kepadanya. Semua pertanyaan dalam benakku akhirnya terjawab sudah. Kak Nyimas menjelaskan dengan detilnya. Ternyata tari tanggai merupakan tari persembahan atau tari selamat datang yang merupakan warisan dari Kesultanan Palembang yang ditarikan oleh beberapa wanita.
Tari ini merupakan tari asli Indonesia. Kekompakan penari merupakan keharusan dan tidak mudah dalam melakukannya. Sang penari harus meluangkan waktu lebih banyak untuk melakukan latihan. Gerakan kaki, tangan, bahkan lirikan mata harus dikompakkan. Keterangan yang aku dapatkan dari kak Nyimas katanya semua orang bisa menarikan tari tanggai. Asalkan serius dan rajin berlatih. Kak Nyimas telah menjadi penari tanggai sejak usianya 12 tahun. Sekarang ia pun masih menggelutinya walau kini telah kelas 2 SMA. Rasa bangga dan kepuasan yang didapat karena bisa menguasai salah satu budaya bumi pertiwi merupakan salah satu alasan kuat yang membuat kak  Nyimas tetap kukuh untuk tetap menari.
            Kita tidak tahu apa yang akan terjadi 10 atau 20 tahun ke depan. Masih bisakah kita melihat anggunnya tari tanggai 10 atau 20 tahun ke depan?
Dengan kian majunya zaman maka kian meningkat pula pengaruh budaya asing yang pada kenyataannya tercaplok dengan baik di Tanah Air kita. Budaya kita semakin sedikit yang mau meneruskan dan melestarikannya. Terutama anak-anak muda, yang mau concern hanya mereka yang tinggal di desa dan golongan tua saja. Budaya asli bumi pertiwi perlahan-lahan tergerus dan tertelan dengan kemodernan yang ditawarkan zaman.

Malu (Aku) Jadi Anak Indonesia
            Kontroversi pengklaiman Negara serumpun Malaysia terhadap budaya Tanah Air tentunya masih hangat di benak kita. Negara yang dulu sangat erat hubungannya dengan kita kini berbalik menikam kita.
Perguruan tinggi Tanah Air yang dulunya memberikan pendidikan kepada rakyat Malaysia seakan tak mampu mengingatkan kembali bagaimana dekatnya hubungan Indonesia-Malaysia dulu. Berbagai cabang kesenian Tanah Air sengaja ataupun tidak  sengaja mereka akui. Mulai dari baju adat, lagu daerah, alat musik, senjata tradisional, tarian bahkan makanan dan obat-obatan tradisonal.
            Selain angklung, gamelan, batik, rendang, tari pendet dan tari reog, senjata tradisonal semacam keris juga ikut-ikutan diklaim. “Keris  adalah senjata tradisional yang akan banyak kita jumpai di ranah jawa. Keberadaannya telah ada semasa berjayanya kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dulu. Keris mempunyai bentuk yang khas, mempunyai ciri masing-masing yang menunjukkan siapa empunya”. Kurang lebih begitulah informasi yang pernah aku terima dari guru seni budayaku sewaktu di bangku sekolah dasar dulu.
            Kini aku telah kelas 2 SMA. Aku mulai sadar. Ketakutanku dulu kini sepertinya terbukti. Kebudayaan di negeriku kian lama kian terancam. Aku kian takut. Akankah budaya di negeriku ini akan tetap bertahan ditengah westernisasi yang kian menjadi-jadi? Aku tidak tahu harus berbuat apa.  
Sebagai anak Indonesia, aku terlanjur kecewa dengan tingkah pola mereka yang secara umur lebih dewasa dibandingkan aku. Mereka hanya bisa berkoar-koar. Seolah bisa menyelamatkan budaya yang telah diklaim Negara lain. Padahal mereka juga yang secara tidak langsung memberikan contoh yang tidak baik kepada kami, anak Indonesia. Dengan bangganya mereka mempertontonkan harajuku style yang mereka anut. Padahal budaya negeri orang tersebut tidak sesuai dengan adat ketimuran Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Ironis memang, disaat budaya bumi pertiwi terseok-seok mencoba untuk bertahan, disaat yang sama anak-anak muda Indonesia membanggakan dan peduli dengan budaya asing semacam harajuku. Mereka dengan rela mengeluarkan dana lebih demi itu semua.
Jarang sekali terlihat olehku tayangan di televisi yang menayangkan acara untuk anak-anak. Apalagi acara anak-anak yang mempelajari tentang budaya Indonesia. Dengan host nya yang menggunakan pakaian adat asli Indonesia, tersenyum bangga, dan menyuarakan rasa cintanya pada Indonesia.
Aku sungguh malu. Aku malu menjadi anak Indonesia kalau hanya bisa membanggakan budaya Negara lain. Seharusnya kita semua sadar, mengapa Negara lain dengan mudahnya mengklaim banyak sekali budaya Tanah Air kita? Inilah yang mungkin terlupakan oleh kita semua. Kebanyakan dari kita kurang peduli dengan eksistensi budaya lokal. Kita lebih tertarik dengan budaya Internasional yang notabene tidak sesuai dengan adat istiadat dan norma di Negara kita.
Kita melupakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada Negara kita. Alam yang memesona, penduduk yang ramah, luas wilayah, serta beragam budaya yang unik. Mengapa kita harus malu memakai baju batik? Mengapa kita harus enggan untuk belajar tari pendet , tari reog, tari piring dan tarian Indonesia lainnya? Mengapa kita harus takut untuk mengkonsumsi jamu? Dan mengapa kita harus tersipu malu memainkan angklung  dan gamelan?
“Negara lain bisa saja mengklaim batik sebagai budayanya, tetapi dunia telah mengakui batik sebagai budaya asli Indonesia”. Begitulah ungkapan Menbudpar Bapak Jero Wacik disalah satu media masa. PBB melalui UNESCO pada Oktober 2009 lalu juga telah menetapkan beberapa budaya Indonesia yang pernah diklaim Malaysia. Salah satunya adalah batik yang kini ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia.
Ungkapan pak Jero wacik dan penetapan UNESCO tersebut membuatku semakin bangga dengan Indonesia. Aku pun semakin yakin untuk berujar, “Wahai penghuni dunia. Datanglah kalian ke negeriku. Lihatlah. Maka kau akan jatuh cinta padanya”.
Cintailah Tanah Air kita. Cintailah beragam budaya unik yang Tuhan berikan kepada Tanah Air kita. Kapan lagi kau bilang, I love my culture?
Sungguh indah tanah air beta. Tiada bandingnya di dunia. Karya indah Tuhan maha kuasa. Bagi bangsa yang memujanya. Indonesia ibu pertiwi. Kau ku puja kau ku kasihi. Tenagaku bahkan pun jiwaku. Kepadamu rela ku beri. (Indonesia Pusaka-Ismail Marzuki)